Siapakah
Pemimpin DKI 2017 ??
Pemilihan umum Gubernur
DKI Jakarta 2017 akan dilaksanakan pada tanggal 15 Februari 2017 untuk
menentukan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022. Jadwal
pemilihan cagub dan cawagub ini di majukan yang pada awalnya di jadwalkan tanggal
17 juli, jadwal ini di majukan karena mengikuti jadwal pilkada serentak
gelombang kedua pada 2017.
Memang berbeda dengan
PILKADA di daerah lain, Pilkada di daerah DKI Jakarta sangat menyita perhatian
karena di anggap pemilu di DKI Jakarta sebagai gambaran persangaingan politik
pemilu 2019. Hal itu di buktikan dengan turun gunungnya tiga tokoh lama yang
sudah di anggap sebagai politikus senior di negeri ini. Yang memprakasai terbentuknya tiga poros pada
pilkada yang akan datang yaitu poros Bhasuki Tjahaja Purnama (dikenal dengan
“Ahok”) yang dengan keputusan dari mantan presiden ibu Megawati Soekarno Putri
akhirnya partai PDI-P melengkapi Partai pengusung Nasdem,Golkar, dan Hanura.
Selain itu ada poros
cikeas yang atas campur tangan mantan presiden SBY berhasil menyatukan Partai
Demokrat,PPP, PKB, dan Pan, mantan perwira TNI Agus Harimurti Yudhoyono menjadi
nama yang di calonkan hal tersebut memberikan kejutan kepada publik karena nama
tersebut merupakan pendatang baru di dunia politik serta memunculkan banyak
pertanyaan menimbang sedang bagus nya karir kemiliteran Agus Harimurti
Yudhoyono. Poros terakhir adalah poros yang terbentuk mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Indonesia yaitu Anies Baswedan juga mencalonkan diri.
Berdasarkan peraturan,
hanya partai politik yang memiliki 22 kursi atau lebih di DPRD Jakarta yang
dapat mengajukan kandidat. Bagi partai politik yang memiliki kursi kurang,
dapat mengajukan calon hanya jika mereka telah memperoleh dukungan dari partai
politik lainnya. Calon independen dapat mengajukan diri jika mereka telah
mengumpulkan setidaknya 532.213 tanda tangan dari penduduk sebagai dukungan
untuk mendaftarkan pencalonan mereka ke Komisi Pemilihan Umum.
PDIP memperkirakan
pertarungan pilgub DKI 2017 akan berlangsung sangat dinamis. Karena latar
belakang 3 cagub yang sudah mendaftar ke KPUD DKI menjadi alasannya.
Dari
3 cagub yang di tampilkan mempunyai latar belakang yang berbeda-beda, calon
pertama yaitu Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) berlatar belakang birokrat, Anies
Baswedan berlatar belakang akademisi dan Agus Harimurti berlatar belakang
militer.
Pada
pilkada 2017 tidak ada kader partai politik (parpol) yg diusung sebagai calon
gubernur. Dari ketiga pasangan calon yang ada, sejumlah parpol memasang
kadernya pada posisi calon wakil gubernur. Bahkan salah satu pasangan cagub dan
cawagub Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni bukan kader partai.
Partai
yang mengusung pasangan Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Shaiful Hidayat yaitu
partai: PDI-P, Hanura, Golkar dan NasDem yang total mendapatkan 52 kursi DPRD.
Karena Ahok tak memiliki partai
Untuk
pasangan Agus Harimurti dan Sylviana Murni telah diusung oleh partai: Demokrat,
PKB, PPP, dan PAN yang mendapatkan total kursi sebanyak 28 kursi DPRD. Agus
merupakan putra ketua partai umum demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, Agus
selama ini berkarir di TNI sementara Sylviana Murni merupakan birokrat yang
sebelumnya menjabat sebagai Deputi Gubernur Bidang Pariwisata dan Kebudayaan
DKI.
Anies
Baswedan dan Sandiaga Uno partai pengusungnya ialah partai: Gerindra dan PKS
yang mendapatkan total 26 kursi DPRD. Karena Anies lebih di kenal di dunia
pendidikan dan terakhir menjabat sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan.
Masyarakat
menilai, ketidakpercayaan terhadap kader partai menjadi salah satu alasan
parpol mengusung calon non-partai. Memilih figure non-partai merupakan salah
satu strategi untuk mendapatkan suara, figur seperti Ahok dan Anies dinilai
telah dikenal masyarakat serta memliki pengalaman yang cukup untuk memimpin
Jakarta.
Parpol
memang kini lebih terbuka terhadap masyarakat untuk diusung sebagai calon
kepala daerah, itu karena merupakan strategi kuat untuk memperluas basis
pemilihan dan mendapatkan peluang yang besar untuk menang. Namun alasan dan
faktor-faktor tersebut juga menjadi perbincangan para pengamat
politik dan media-media swasta. Mereka menggangap fenomena banyaknya calon
gubernur yang di usung bukan hasil kaderisasi partai politik telah
mengindikasikan gagalnya sistem pengkaderisasian partai-partai politik di
Indonesia.
Wakil Ketua DPRD dari
Fraksi Partai Persatuan Pembangunan, Abraham ‘Lulung’ Lunggana, mengatakan ia
mendukukung pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Agus Harimurti
Yudhoyono-Sylviana Murni dalam pemilihan Kepala Daerah 2017. Lulung mengaku
sudah kenal lama dengan Sylviana dan mempunyai kesamaan, yaitu sama-sama
berasal dari Betawi. Menurutnya Sylviana memiliki karir yang baik, ia juga
tidak meragukan kemampuan Sylviana dibidang birokrasi.
Beberapa belakangan ini
terjadi saling serang opini terkait pernyataan calon gubernur Basuki Tjahaja
Purnama (Ahok) yang dinilai menghina umat Muslim. Ini bukan merupakan kejadia
pertama, lepas dari kontroversi yang terjadi, ini merupakan fenomena baru dalam
pemilihan gubernur Jakarta dan mungkin dalam pemilihan kepala daerahdi
Indonesia.
Lingkaran Survei
Indonesia dalam konferensi pers mengatakan alasan agama terbukti membuat
dukungan bagi Ahok menurun. Karena kebanyakan masyarakat tidak ingi dipimpin
oleh non-muslim. Terlebih setimen-sentimen ini potensial akan berlanjut sampai
masa pemilihan di tanggal 15 Febuari 2017.
Kian membesarnya
sentimen anti-Ahok karena alasan agama bias dipicu dengan isu yang kini sedang
ramai terkait tafsir surat Al-Maidah ayat 51, dimana Ahok dituding telah
menistakan Islam.
LSI juga membandingkan
segmen pemilihan antara ketiga pasangan. Pemilih pasangan Ahok-Djarot mempunyai
profil non-muslim, Tionghoa, usia tua, pendidikan bawah, pemilih PDI-P.
sedangkan profil pemilih pasanagan Anies-Sandi, dan Agus-Sylvi mempunyai profil
sama, yaitu muslim, diluar Tionghoa, usia muda, pendidikan atas, pemilih partai
pendukung plus partai Golkar.
Pemilihan kepala daerah
yang jujur, bersih adil dan demokratis merupakan syarat penting untuk memilih
pemimpin yang berbobot untuk DKI Jakarta serta berpihak kepada rakyat dan anti
korupsi.sehingga siapapun nanti yang terpilih, mampu menyelesaikan permasalahan
yang terjadi di ibukota DKI Jakarta.


