Perang Dagang
Peluang Pelaku Eksportir Menggenjot Nilai Neraca Perdagangan Ekspor
Aksi saling berbalas
tarif impor antara Amerika Serikat (AS) dan China telah mengganggu rantai
pasokan global. Perselisihan antara kedua negara dengan perekonomian terbesar
di dunia ini pun diprediksi akan berlangsung selama bertahun-tahun. Pemerintah
AS pada hari Senin mengumumkan akan mengenakan bea impor 10% terhadap produk
China senilai US$200 miliar yang akan naik menjadi 25% di akhir tahun. China
membalas langkah itu hari Selasa dengan mengenakan tarif impor terhadap 5.000
lebih barang AS senilai US$60 miliar.
Dinamisnya dan panasnya
perang dagang tersebut adalah salah satu peluang kita untuk meningkatkan nilai
ekspor kita karena besarnya pajak yang di terapkan kepada produk kedua negara
menjadi peluang produk Indonesia untuk masuk negara tersebut karena memiliki
harga yang bersaing dan rendahnya pajak yang di terapkan Negara Amerika dan
China kepada produk kita.
Menurut World Bank
meski perang dagang memunculkan ketidakpastian dan mengancam pertumbuhan dunia,
Bank Dunia (World Bank/WB) menilai Indonesia bisa memanfaatkan momentum ini
untuk menggenjot ekspor barang konsumen.
Sebelum kita bahas mengenai Peluang
perang dagang kita akan cari tahu terlebih dahulu pengertian perang dagang. Pasti
kita selalu bertanya-tanya “apa itu Perang dagang?”, Perang dagang adalah “sebuah
konflik ekonomi di mana negara memberlakukan pembatasan impor satu sama lain,
untuk merugikan perdagangan satu sama lain.” Tarif Trump dan ancaman pembalasan
dari negara lain memenuhi definisi ini, tetapi begitu juga berabad-abad
pertempuran protektif oleh sejumlah negara di sektor yang tak terhitung
jumlahnya.
Eskalasi baru-baru ini
memicu kekhawatiran bahwa Trump telah memicu perang dagang penuh, dengan
menunjuk China, sebagai pembalasan atas pencurian kekayaan intelektual.
Tindakan saling balas oleh AS dan China atas tarif baja, seruan Trump terhadap
keamanan nasional untuk membenarkan beberapa langkahnya yang bisa membuka Kotak
Pandora dari klaim serupa oleh negara lain dan ancaman Trump untuk lebih lanjut
menghukum Uni Eropa, jika Uni Eropa memberlakukan counter-duties (bantuan untuk
mengimbangi dampak subsidi oleh negara pengekspor), juga menambah suasana
perang dagang. salah satu faktor pendorong utama dibalik alasan mengapa kedua
negara itu akhirnya memulai perang dagang mereka. Teknologi 5G, yang menjadi
generasi internet seluler berikutnya ternyata menjadi salah satu penyebabnya.
5G diketahui bisa memungkinkan orang untuk mengunduh film hanya dalam hitungan
detik, dan itu bisa mengarah pada pengalaman internet seluler yang sangat luar
biasa.
Kendati demikian, 5G
lebih dari sekedar internet seluler berkecepatan tinggi dan sering disebut
sebagai teknologi yang bisa mendukung infrastruktur generasi berikutnya.
Nantinya keunggulan teknologi ini akan terlihat dari miliaran perangkat yang
terhubung ke internet yang diperkirakan akan online dalam beberapa tahun ke
depan, kemudian meluas ke kota-kota pintar dan mobil tanpa pengemudi. 5G bisa
menjadi kunci bagi janji Presiden AS Donald Trump dalam membuat Amerika menjadi
negara yang lebih hebat.
Akibat perang dagang
itu, Indonesia punya potensi untuk mengekspor barang ke kedua negara itu. Tidak
cuma itu, Indonesia juga bisa jadi negara ketiga yang "mengambil
jatah" ekspor China dan Amerika. Perang dagang itu dinilai Iman sangat
kompleks. Salah satu sebab awalnya adalah pertumbuhan komoditas baja dan
alumunium di China. “Indonesia bisa jadi negara ketiga untuk beberapa produk
yang dihasilkan China atau Amerika yang menggunakan input kedua negara itu
supply menjadi terhambat, Beberapa komoditas yang bisa diekspor Indonesia
seperti baja dan almunium”. Pasar Amerika misal baja dan aluminium itu terbuka
buat Indonesia, tapi perlu hati-hati. Untuk pasar China buah-buahan dan juga
produk besi dan baja, serta aluminium
Di situasi seperti itu, Ketua Komite
Tetap Pengembangan Ekspor Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Handito Joewono
mengatakan eskalasi perang dagang ini bisa menjadi pintu peluang bagi ekspor
Indonesia.
“Ini kesempatan baik untuk meningkatkan
ekspor. Dengan banyak regional dibuka kalau tidak dimanfaatkan rugi, Pertama
penambahan jumlah eksportir, diversifikasi produk ekspor, pengembangan pasar
ekspor, peningkatan harga ekspor dan pengembangan ekosistem ekspor. Kalau
dilakukan dengan baik oleh dunia usaha pasti bias, Tak hanya itu, momen perang
dagang juga bisa dimanfaatkan Indonesia untuk lebih memaksimalkan pemakaian
produk domestik.
“Era sekarang era yang baik saat perang
dagang baik kita tingkatan lagi kecintaan pada produk Indonesia. Lebih baik
produk sendiri. Kalau ada dua negara besar mengalami perang dagang, kan,
berarti mereka cari jalan alternatif dari negara yang bisa dijadikan transit
untuk bisa menjual barang ke negara tujuan. AS cari partner negara mana untuk
memasukkan barang ke Tiongkok, begitu juga sebaliknya. Tujuannya supaya
pengenaan pajak bisa dihindari, perang dagang yang tengah berkecamuk membuat
bisnis-bisnis di China mulai mengincar lokasi baru untuk menanamkan modal,
membuka pabrik ataupun mencari sumber pasokan barang. Keputusan untuk
memanfaatkan peluang yang bisa menarik lebih banyak Penanaman Modal Asing (PMA)
ini pun ada di tangan Indonesia. "Banyak perusahaan di China yang mencari
lokasi baru untuk berinvestasi, memindahkan kapasitas manufaktur, dan mereka
juga mencari pasokan dari sumber-sumber lain. Keputusan ada di tangan
Indonesia, apakah ingin memposisikan diri sebagai salah satu kompetitor sukses
di perselisihan dagang yang sebenarnya bisa meningkatkan PMA di bidang ekspor
Perang dagang AS-Cina masih dapat
disikapi secara positif oleh Kementerian Perdagangan sebagai peluang mengisi
ekspor barang kebutuhan ke dua negara yang berseteru tersebut. Namun, Dirjen
Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan, Iman Pambagyo
mengatakan ada tantangan untuk Indonesia mengambil peluang itu
Tantangan Pertama mengurangi alasan
negara lain untuk menyiapkan trade measures terhadap negara kita. Bisa
dimengerti kenapa AS menerapkan trade measure ke Cina karena AS merasa Cina
curang.
Tantangan kedua adalah pemerintah harus
berhati-hati dalam mengambil kebijakan, khususnya menyinggung soal komitmen
perdagangan internasional. Banyak dalam FTA [Free Trade Agreement] dan CEPA
[Comprehensive Economic Partnership Agreement] banyak yang mempertanyakan
kebijakan-kebijakan restriktif batasan impor, ekspor dan hilirisas. Banyak
dalam FTA [Free Trade Agreement] dan CEPA [Comprehensive Economic Partnership
Agreement] banyak yang mempertanyakan kebijakan-kebijakan restriktif batasan
impor, ekspor dan hilirisas
Tantangan ketiga adalah Amerika dan China penting bagi Indonesia,
tapi Indonesia tidak penting bagi keduanya. Indonesia harus meningkatkan
kualitas produk dan mengekspor komoditas penting sehingga posisi kita di
perhitungkan.










