Rabu, 29 Mei 2019

Perang Dagang Peluang Pelaku Eksportir Menggenjot Nilai Neraca Perdagangan Ekspor


Perang  Dagang Peluang Pelaku  Eksportir  Menggenjot Nilai Neraca Perdagangan Ekspor



Aksi saling berbalas tarif impor antara Amerika Serikat (AS) dan China telah mengganggu rantai pasokan global. Perselisihan antara kedua negara dengan perekonomian terbesar di dunia ini pun diprediksi akan berlangsung selama bertahun-tahun. Pemerintah AS pada hari Senin mengumumkan akan mengenakan bea impor 10% terhadap produk China senilai US$200 miliar yang akan naik menjadi 25% di akhir tahun. China membalas langkah itu hari Selasa dengan mengenakan tarif impor terhadap 5.000 lebih barang AS senilai US$60 miliar.
Dinamisnya dan panasnya perang dagang tersebut adalah salah satu peluang kita untuk meningkatkan nilai ekspor kita karena besarnya pajak yang di terapkan kepada produk kedua negara menjadi peluang produk Indonesia untuk masuk negara tersebut karena memiliki harga yang bersaing dan rendahnya pajak yang di terapkan Negara Amerika dan China kepada produk kita.
Menurut World Bank meski perang dagang memunculkan ketidakpastian dan mengancam pertumbuhan dunia, Bank Dunia (World Bank/WB) menilai Indonesia bisa memanfaatkan momentum ini untuk menggenjot ekspor barang konsumen.
Sebelum kita bahas mengenai Peluang perang dagang kita akan cari tahu terlebih dahulu pengertian perang dagang. Pasti kita selalu bertanya-tanya “apa itu Perang dagang?”, Perang dagang adalah “sebuah konflik ekonomi di mana negara memberlakukan pembatasan impor satu sama lain, untuk merugikan perdagangan satu sama lain.” Tarif Trump dan ancaman pembalasan dari negara lain memenuhi definisi ini, tetapi begitu juga berabad-abad pertempuran protektif oleh sejumlah negara di sektor yang tak terhitung jumlahnya.
Eskalasi baru-baru ini memicu kekhawatiran bahwa Trump telah memicu perang dagang penuh, dengan menunjuk China, sebagai pembalasan atas pencurian kekayaan intelektual. Tindakan saling balas oleh AS dan China atas tarif baja, seruan Trump terhadap keamanan nasional untuk membenarkan beberapa langkahnya yang bisa membuka Kotak Pandora dari klaim serupa oleh negara lain dan ancaman Trump untuk lebih lanjut menghukum Uni Eropa, jika Uni Eropa memberlakukan counter-duties (bantuan untuk mengimbangi dampak subsidi oleh negara pengekspor), juga menambah suasana perang dagang. salah satu faktor pendorong utama dibalik alasan mengapa kedua negara itu akhirnya memulai perang dagang mereka. Teknologi 5G, yang menjadi generasi internet seluler berikutnya ternyata menjadi salah satu penyebabnya. 5G diketahui bisa memungkinkan orang untuk mengunduh film hanya dalam hitungan detik, dan itu bisa mengarah pada pengalaman internet seluler yang sangat luar biasa.
Kendati demikian, 5G lebih dari sekedar internet seluler berkecepatan tinggi dan sering disebut sebagai teknologi yang bisa mendukung infrastruktur generasi berikutnya. Nantinya keunggulan teknologi ini akan terlihat dari miliaran perangkat yang terhubung ke internet yang diperkirakan akan online dalam beberapa tahun ke depan, kemudian meluas ke kota-kota pintar dan mobil tanpa pengemudi. 5G bisa menjadi kunci bagi janji Presiden AS Donald Trump dalam membuat Amerika menjadi negara yang lebih hebat.
Akibat perang dagang itu, Indonesia punya potensi untuk mengekspor barang ke kedua negara itu. Tidak cuma itu, Indonesia juga bisa jadi negara ketiga yang "mengambil jatah" ekspor China dan Amerika. Perang dagang itu dinilai Iman sangat kompleks. Salah satu sebab awalnya adalah pertumbuhan komoditas baja dan alumunium di China. “Indonesia bisa jadi negara ketiga untuk beberapa produk yang dihasilkan China atau Amerika yang menggunakan input kedua negara itu supply menjadi terhambat, Beberapa komoditas yang bisa diekspor Indonesia seperti baja dan almunium”. Pasar Amerika misal baja dan aluminium itu terbuka buat Indonesia, tapi perlu hati-hati. Untuk pasar China buah-buahan dan juga produk besi dan baja, serta aluminium
Di situasi seperti itu, Ketua Komite Tetap Pengembangan Ekspor Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Handito Joewono mengatakan eskalasi perang dagang ini bisa menjadi pintu peluang bagi ekspor Indonesia.
“Ini kesempatan baik untuk meningkatkan ekspor. Dengan banyak regional dibuka kalau tidak dimanfaatkan rugi, Pertama penambahan jumlah eksportir, diversifikasi produk ekspor, pengembangan pasar ekspor, peningkatan harga ekspor dan pengembangan ekosistem ekspor. Kalau dilakukan dengan baik oleh dunia usaha pasti bias, Tak hanya itu, momen perang dagang juga bisa dimanfaatkan Indonesia untuk lebih memaksimalkan pemakaian produk domestik.
“Era sekarang era yang baik saat perang dagang baik kita tingkatan lagi kecintaan pada produk Indonesia. Lebih baik produk sendiri. Kalau ada dua negara besar mengalami perang dagang, kan, berarti mereka cari jalan alternatif dari negara yang bisa dijadikan transit untuk bisa menjual barang ke negara tujuan. AS cari partner negara mana untuk memasukkan barang ke Tiongkok, begitu juga sebaliknya. Tujuannya supaya pengenaan pajak bisa dihindari, perang dagang yang tengah berkecamuk membuat bisnis-bisnis di China mulai mengincar lokasi baru untuk menanamkan modal, membuka pabrik ataupun mencari sumber pasokan barang. Keputusan untuk memanfaatkan peluang yang bisa menarik lebih banyak Penanaman Modal Asing (PMA) ini pun ada di tangan Indonesia. "Banyak perusahaan di China yang mencari lokasi baru untuk berinvestasi, memindahkan kapasitas manufaktur, dan mereka juga mencari pasokan dari sumber-sumber lain. Keputusan ada di tangan Indonesia, apakah ingin memposisikan diri sebagai salah satu kompetitor sukses di perselisihan dagang yang sebenarnya bisa meningkatkan PMA di bidang ekspor
Perang dagang AS-Cina masih dapat disikapi secara positif oleh Kementerian Perdagangan sebagai peluang mengisi ekspor barang kebutuhan ke dua negara yang berseteru tersebut. Namun, Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan, Iman Pambagyo mengatakan ada tantangan untuk Indonesia mengambil peluang itu
Tantangan Pertama mengurangi alasan negara lain untuk menyiapkan trade measures terhadap negara kita. Bisa dimengerti kenapa AS menerapkan trade measure ke Cina karena AS merasa Cina curang.
Tantangan kedua adalah pemerintah harus berhati-hati dalam mengambil kebijakan, khususnya menyinggung soal komitmen perdagangan internasional. Banyak dalam FTA [Free Trade Agreement] dan CEPA [Comprehensive Economic Partnership Agreement] banyak yang mempertanyakan kebijakan-kebijakan restriktif batasan impor, ekspor dan hilirisas. Banyak dalam FTA [Free Trade Agreement] dan CEPA [Comprehensive Economic Partnership Agreement] banyak yang mempertanyakan kebijakan-kebijakan restriktif batasan impor, ekspor dan hilirisas
Tantangan ketiga adalah  Amerika dan China penting bagi Indonesia, tapi Indonesia tidak penting bagi keduanya. Indonesia harus meningkatkan kualitas produk dan mengekspor komoditas penting sehingga posisi kita di perhitungkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar