Pengaruh Tingkat Stress Bagi Kesehatan
Pemilihan umum serentak
yang dilaksanakan pada 17 April 2019 telah usai namun menyisakan banyak duka,
yaitu meninggalnya ratusan petugas KPPS yang di duga mengalami kelelahan dan stress
akibat tekanan kerja yang sangat tinggi dalam menghitung suara rakyat, karena
dalam penghitungan suara selain dilakukan secara marathon dan nonstop banyaknya
kecurigaan dari masyarakat dan saksi para peserta yang mengikuti pemilu
menambah tingkat stress petugas KPPS.
Bahkan Ikatan dokter
Indonesia telah merokemendasi pemerintah dan DPR utuk mengkaji ulang
undang-undang pemilu agar di tahun 2024 tidak terjadi hal yag sama, dan menteri
keuangan telah mengeluarkan keputusan bahwa setiap petugas KPPS yang meninggal
dunia akan di beri santunan sebesar 36 juta rupiah, melihat masalah di atas
sebenarnya kita pasti penasaran seberapa besar pengaruh strees bagi kesehatan
Stress sebenarnya memliki dampak yang positif stress semacam
ini dinamakan eustress, strees ini mampu memotivasi seseorang untuk bekerja
lebih baik lagi dan bersemangat dalam menjalani kehidupan, stress semacam ini
di hasilkan dari pengelolaan stress yang baik yang di lakukan oleh seorang
individu.
Sayangnya, kebanyakan orang lebih
memilih berteman akrab dengan distress. Stress jenis inilah yang membawa dampak
negatif baik bagi kesehatan mental maupun kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Bila tidak segera ditangani, kondisi ini dapat memicu datangnya berbagai jenis
penyakit seperti berikut ini.
Berbagai penyakit akibat stress yang
harus diwaspadai, yaitu :
1.
Sakit Kepala
Sakit kepala menjadi penyakit akibat
stress yang hampir pasti menghinggapi penderitanya. Tegangnya otot juga saraf
dikepala akibat stress, dapat menimbulkan sakit kepala tegang, migrain hingga
kesemutan di satu atau kedua sisi kepala. Durasinya dapat berlangsung singkat
bahkan bertahan lama, bergantung tingkat stress yang dialami.
2.
Flu
Keterkaitan antara stress dan menurunnya
imunitas tubuh telah banyak dibuktikan para ahli. Kadar hormon kortisol yang
melonjak tajam ketika stress mampu melemahkan respon imun terhadap berbagai
ancaman, termasuk virus flu.
Akibatnya seseorang yang stress lebih
mudah terinfeksi flu. Bahkan dapat bertambah parah dan sulit pergi, jika stress
yang dialami tak kunjung diatasi.
3.
Sindrom Kelelahan Kronis
Sindrom kelelahan kronis (chronic
fatigue syndrom, CFS) merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan timbulnya
gejala berupa kelemahan dan rasa kantuk terus menerus yang tak kunjung pergi
meski telah banyak beristirahat.
Meski hingga saat ini para peneliti
belum menemukan penyebab utama dari kondisi ini, namun stres diduga kuat
memainkan peran besar didalamnya. Curigai apabila mengalami kelelahan yang tak
hilang meski telah berbulan-bulan lamanya.
4.
Gangguan Tidur
Stress membuat otak dipenuhi dengan
beban pikiran juga emosi, akibatnya dapat memicu timbulnya gangguan tidur
seperti insomnia. Jika dibiarkan berlarut-larut, penyakit akibat stress satu
ini dapat berimplikasi pada tekanan darah hingga dapat memperpendek usia.
5.
Masalah Kesuburan
Hingga saat ini, stress menjadi alasan
kuat yang memengaruhi tingkat kesuburan baik pria maupun wanita. Betapa tidak,
stress dapat menyebabkan ejakulasi dini pada pria dan terganggunya siklus
menstruasi pada wanita. Meningkatkan resiko terjadinya kemandulan hingga memicu
keretakan rumah tangga.
6.
Sakit Punggung
Sikap tubuh yang salah ketika
beraktivitas umumnya menjadi penyebab utama terjadinya sakit punggung. Kendati
demikian, bila sakit punggung yang dialami terus menetap tak kunjung sembuh,
bisa jadi tekanan emosional atau stres-lah penyebabnya.
Stress dapat memicu ketegangan fisik
yang menyakitkan dan sering terjadi di jaringan lunak leher, bahu, punggung
hingga bokong. Untuk itu, bila pengobatan sakit punggung kerap tidak membuahkan
hasil positif, cobalah untuk memperhatikan kondisi mental dan emosional diri.
7.
Obesitas
Malas berolahraga bukanlah satu-satunya
alasan yang menyebabkan seseorang terjebak dalam obesitas. Ada alasan lain
dibalik kondisi ini, yakni stress!
Peningkatan hormon kortisol ketika
stress mampu meningkatkan nafsu makan dan memicu keinginan mengonsumsi makanan
manis juga berlemak. Tubuh pun akan menyimpan lebih banyak lemak, terutama di
daerah perut.
8.
Gangguan Pencernaan
Perhatikanlah bagaimana fluktuasi
emosional sering kali merangsang timbulnya reaksi di perut. Jangan heran,
karena lambung dan usus memiliki saraf yang terhubung langsung ke otak.
Itulah mengapa ketika stres, tak jarang
disertai dengan kedatangan masalah kesehatan pada sistem pencernaan. Stres
dapat menyebabkan maag, GERD hingga sindrom iritasi usus atau irritable bowel
syndrome (IBS).
9. Depresi
Seakan tak cukup untuk terus memperburuk
kondisi kesehatan, stress kronis mampu menempatkan penderitanya berada dalam
depresi.
Pada tahap ini, seseorang cenderung
terlibat dalam perilaku agresif atau berisiko. Misalnya pelampiasan pada
obat-obatan terlarang, menyakiti diri sendiri atau orang lain hingga tak jarang
dapat melakukan percobaan pembunuhan.
Melihat berbagai
penyakit akibat stress di atas, tak mengherankan apabila stress memiliki
keterkaitan erat dengan kematian dini. Memang kita tak dapat menampik
kedatangan stress juga masalah dalam hidup. Namun jangan lantas kondisi ini
justru menggerus kita dalam keterpurukan.
Hadapi dan kelola
stress sebaik mungkin. Orientasikan pikiran pada penyelesaian bukan dengan
menghindari masalah yang dihadapi. Bila merasa tidak mampu menghadapinya
sendiri, bicarakan dengan orang terdekat atau berkonsultasilah dengan psikiater
atau psikolog.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar