Senin, 27 Mei 2019

Dampak Stress Bagi Kesehatan

Pengaruh Tingkat Stress Bagi Kesehatan

Pemilihan umum serentak yang dilaksanakan pada 17 April 2019 telah usai namun menyisakan banyak duka, yaitu meninggalnya ratusan petugas KPPS yang di duga mengalami kelelahan dan stress akibat tekanan kerja yang sangat tinggi dalam menghitung suara rakyat, karena dalam penghitungan suara selain dilakukan secara marathon dan nonstop banyaknya kecurigaan dari masyarakat dan saksi para peserta yang mengikuti pemilu menambah tingkat stress petugas KPPS.
Bahkan Ikatan dokter Indonesia telah merokemendasi pemerintah dan DPR utuk mengkaji ulang undang-undang pemilu agar di tahun 2024 tidak terjadi hal yag sama, dan menteri keuangan telah mengeluarkan keputusan bahwa setiap petugas KPPS yang meninggal dunia akan di beri santunan sebesar 36 juta rupiah, melihat masalah di atas sebenarnya kita pasti penasaran seberapa besar pengaruh strees bagi kesehatan
Stress sebenarnya  memliki dampak yang positif stress semacam ini dinamakan eustress, strees ini mampu memotivasi seseorang untuk bekerja lebih baik lagi dan bersemangat dalam menjalani kehidupan, stress semacam ini di hasilkan dari pengelolaan stress yang baik yang di lakukan oleh seorang individu.
Sayangnya, kebanyakan orang lebih memilih berteman akrab dengan distress. Stress jenis inilah yang membawa dampak negatif baik bagi kesehatan mental maupun kesehatan tubuh secara keseluruhan. Bila tidak segera ditangani, kondisi ini dapat memicu datangnya berbagai jenis penyakit seperti berikut ini.
Berbagai penyakit akibat stress yang harus diwaspadai, yaitu :

1. Sakit Kepala
Sakit kepala menjadi penyakit akibat stress yang hampir pasti menghinggapi penderitanya. Tegangnya otot juga saraf dikepala akibat stress, dapat menimbulkan sakit kepala tegang, migrain hingga kesemutan di satu atau kedua sisi kepala. Durasinya dapat berlangsung singkat bahkan bertahan lama, bergantung tingkat stress yang dialami.

2. Flu
Keterkaitan antara stress dan menurunnya imunitas tubuh telah banyak dibuktikan para ahli. Kadar hormon kortisol yang melonjak tajam ketika stress mampu melemahkan respon imun terhadap berbagai ancaman, termasuk virus flu.
Akibatnya seseorang yang stress lebih mudah terinfeksi flu. Bahkan dapat bertambah parah dan sulit pergi, jika stress yang dialami tak kunjung diatasi.

3. Sindrom Kelelahan Kronis
Sindrom kelelahan kronis (chronic fatigue syndrom, CFS) merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan timbulnya gejala berupa kelemahan dan rasa kantuk terus menerus yang tak kunjung pergi meski telah banyak beristirahat.
Meski hingga saat ini para peneliti belum menemukan penyebab utama dari kondisi ini, namun stres diduga kuat memainkan peran besar didalamnya. Curigai apabila mengalami kelelahan yang tak hilang meski telah berbulan-bulan lamanya.

4. Gangguan Tidur
Stress membuat otak dipenuhi dengan beban pikiran juga emosi, akibatnya dapat memicu timbulnya gangguan tidur seperti insomnia. Jika dibiarkan berlarut-larut, penyakit akibat stress satu ini dapat berimplikasi pada tekanan darah hingga dapat memperpendek usia.

5. Masalah Kesuburan
Hingga saat ini, stress menjadi alasan kuat yang memengaruhi tingkat kesuburan baik pria maupun wanita. Betapa tidak, stress dapat menyebabkan ejakulasi dini pada pria dan terganggunya siklus menstruasi pada wanita. Meningkatkan resiko terjadinya kemandulan hingga memicu keretakan rumah tangga.

6. Sakit Punggung
Sikap tubuh yang salah ketika beraktivitas umumnya menjadi penyebab utama terjadinya sakit punggung. Kendati demikian, bila sakit punggung yang dialami terus menetap tak kunjung sembuh, bisa jadi tekanan emosional atau stres-lah penyebabnya.
Stress dapat memicu ketegangan fisik yang menyakitkan dan sering terjadi di jaringan lunak leher, bahu, punggung hingga bokong. Untuk itu, bila pengobatan sakit punggung kerap tidak membuahkan hasil positif, cobalah untuk memperhatikan kondisi mental dan emosional diri.

7. Obesitas
Malas berolahraga bukanlah satu-satunya alasan yang menyebabkan seseorang terjebak dalam obesitas. Ada alasan lain dibalik kondisi ini, yakni stress!
Peningkatan hormon kortisol ketika stress mampu meningkatkan nafsu makan dan memicu keinginan mengonsumsi makanan manis juga berlemak. Tubuh pun akan menyimpan lebih banyak lemak, terutama di daerah perut.

8. Gangguan Pencernaan
Perhatikanlah bagaimana fluktuasi emosional sering kali merangsang timbulnya reaksi di perut. Jangan heran, karena lambung dan usus memiliki saraf yang terhubung langsung ke otak.
Itulah mengapa ketika stres, tak jarang disertai dengan kedatangan masalah kesehatan pada sistem pencernaan. Stres dapat menyebabkan maag, GERD hingga sindrom iritasi usus atau irritable bowel syndrome (IBS).

9.  Depresi
Seakan tak cukup untuk terus memperburuk kondisi kesehatan, stress kronis mampu menempatkan penderitanya berada dalam depresi.
Pada tahap ini, seseorang cenderung terlibat dalam perilaku agresif atau berisiko. Misalnya pelampiasan pada obat-obatan terlarang, menyakiti diri sendiri atau orang lain hingga tak jarang dapat melakukan percobaan pembunuhan.

Melihat berbagai penyakit akibat stress di atas, tak mengherankan apabila stress memiliki keterkaitan erat dengan kematian dini. Memang kita tak dapat menampik kedatangan stress juga masalah dalam hidup. Namun jangan lantas kondisi ini justru menggerus kita dalam keterpurukan.
Hadapi dan kelola stress sebaik mungkin. Orientasikan pikiran pada penyelesaian bukan dengan menghindari masalah yang dihadapi. Bila merasa tidak mampu menghadapinya sendiri, bicarakan dengan orang terdekat atau berkonsultasilah dengan psikiater atau psikolog.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar