Ayo Selamatkan Bumi Dari Sampah Plastik
Semakin
banyaknya penduduk bumi yang sudah mencapai 7 milyar di seluruh dunia,
menghasilkan sampah yang sangat banyak. Menurut penelitian setiap individu di
bumi ini dapat menghasilkan sampah baik organik dan anorganik sekitar 1 sampai
3 kilogram dalam sehari, coba kita bayangkan dalam sebulan berapa banyak sampah
yang di hasilkan oleh seluruh penduduk bumi. Dan sampai sekarang ini sampah
masih menjadi masalah bersama yang belum dapat di temukan solusi terbaiknya.
Walaupun
sebagian besar sampah organik dapat di daur ulang dan mudah terurai, namun yang
menjadi masalah pelik adalah sampah plastik, karena menurut penelitian kota-kota di dunia menghasilkan sampah
plastik hingga 1,3 miliar ton setiap tahun. Bahkan menurut perkiraan Bank
Dunia, jumlah ini bertambah hingga 2,2 miliar ton pada tahun 2025 mendatang.
Selama lebih dari 50 tahun, produksi dan konsumsi plastik global terus
meningkat. Dan hanya 10% nya saja yang dapat di daur ulang. Sisanya belum
teratasi dan terus mencemari lingkungan baik di darat dan mulai memasuki
lautan.
Di lautan,
Sekitar 10 hingga 20 juta ton sampah plastik mencemari setiap tahun. Sebuah
studi baru memperkirakan, sekitar 5 triliun partikel plastik dengan berat total
268.940 ton mengambang di lautan saat ini. Sampah plastik menghasilkan kerugian
sekitar 13 miliar dolar setiap tahun, mulai dari kerusakan ekosistem laut
hingga wisata alam.
Banyaknya sampah
plastik yang mencemari lingkungan karena hanya 2% dari sampah yang ada di dunia
di daur ulang menjadi barang efektif, sekitar 14 sampai 25 persen yang di bakar
dan di hancurkan. Sisanya mencemari lingkungan dan menunggu terurai secara
alami. Sedangkan menurut penelitian butuh ratusan tahun bahkan ribuan tahun
plastik dapat terurai secara alami bahkan ada penyelam yang menemukan botol
berumur 400 tahun di laut pasifik masih berbentuk utuh. Keadaan ini sangat
mengancam ekositem dan menjadi ancaman langsung bagi hewan karena sulit
membedakan mana makanan mereka dan mana sampah plastik.
Jenis sampah yang
banyak ditemukan di laut, yaitu seperti puntung rokok, pembungkus makanan,
botol dan tas plastik. Kemudian, tutup botol, alat makanan plastik, sedotan,
botol kaca. Selain itu, kaleng makanan minuman, tas kertas dan sampah lainnya.
Sampah-sampah
itu terus membunuh makhluk hidup di lautan. Berdasarkan penelitian yang
diterbitkan Sekretariat Konvensi tentang Keanekaragaman Hayati pada 2016,
sampah di lautan telah membahayakan lebih dari 800 spesies. Dari 800 spesies
itu, 40% adalah mamalia laut dan 44% adalah spesies burung laut. Konferensi
Laut PBB di New York 2017 menyebut limbah plastik di lautan membunuh 1 juta
burung laut, 100 ribu mamalia laut, kura-kura laut, dan ikan-ikan yang tak
terhitung jumlahnya, tiap tahun.
Beberapa kasus
yang terjadi yaitu sedotan Plastik di Hidung Kura-kura video YouTube berisi
tayangan ngeri soal penyelamatan kura-kura ini menjadi viral. Sedotan plastik
sepanjang 12 cm dicabut dari lubang hidung kura-kura malang itu. Darah mengucur
dari hidung kura-kura. Video ini viral sehingga Menteri Kelautan dan Perikanan
Susi Pudjiastuti ikut memasang di akun Twitter-nya. Video ini berasal dari
peristiwa pada Agustus 2015. Paus telan 80 kantong plastik seekor paus pilot
mengalami sakit dan tak bisa berenang di kawasan Thailand selatan. Akhirnya
paus itu mati pada 1 Juni 2018. Upaya penyelamatan dari petugas perairan
Thailand tak berhasil menyelamatkan nyawa paus itu. Usut punya usut, paus itu
ternyata telah menelan 80 kantong plastik, bobotnya 8 kg. Tutup botol di dalam bangkai burung fotografer
Chris Jordan memotret bangkai burung albatros. Bagian dalam perut burung itu
tersibak, isinya ada tutup botol plastik dan berbagai benda plastik lainnya.
Jordan menemukan bangkai burung demikian di Midway AS pada September 2009. Dia
melihat ribuan bangkai anak burung. Menurut PBB, dalam paparan soal problem
plastik sekali pakai, disampaikan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
RI, 99% burung laut bakal menelan plastik pada 2055.
Jika kita
menumbuhkan kesadaran diri dan menangulangi masalah sampah ini secara serius
bukan tidak mungkin kerusakan yang di timbulkan akan semakin besar, dan akan
banyak spesies yang punah akibat mati setiap harinya karena rusaknya ekosistem
akibat sampah.
Mari mulai dari
diri kita sendiri untuk mengurangi penggunaan plastik, banyak kota-kota yang
sudah memberlakukan gerakan mengurangi penggunaan plastik, seperti kita bisa
mulai dengan tidak menggunakan sedotan plastik, menggunakan totebag dari kain
untuk menaruh belanjaan yang kita beli dan tentunya tidak membuang sampah
secara sembarangan. Karena sampah yang terus semakin meningkat dapat mengancam
keselamatan bumi yang kita huni ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar